Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah
yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan
berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan, keterampilan dalam
rangkaian/tahapan yang logis untuk pengambilan suatu keputusan berfokus pada
klien.
Sesuai dengan perkembangan pelayanan kebidanan, maka
bidan diharapkan lebih kritis dalam melaksanakan proses manajemen kebidanan
untuk mengambil keputusan. Menurut Hellen Varney, ia mengembangkan
proses manajemen kebidanan ini dari 5 langkah menjadi 7 langkah yaitu mulai
dari pengumpulan data sampai dengan evaluasi. (Langkah-langkah tersebut akan
lebih lanjut dibahas pada bab ini)
Bidan mempunyai fungsi yang sangat penting dalam
asuhan yang mandiri, kolaborasi dan melakukan rujukan yang tepat. Oleh karena
itu bidan dituntut untuk mampu mendeteksi dini tanda dan gejala komplikasi
kehamilan, memberikan pertolongan kegawatdaruratan kebidanan dan perinatal dan merujuk
kasus. Praktik kebidanan telah mengalami perluasan peran dan fungsi dari focus
terhadap ibu hamil, bersalin, nifas, bayi baru lahir, serta anak balita
bergeser kepada upaya mengantisipasi tuntutan kebutuhan masyarakat yang dinamis
yaitu menuju kepada pelayanan kesehatan reproduksi sejak konsepsi hingga usia
lanjut, meliputi konseling pre konsepsi, persalinan, pelayanan ginekologis,
kontrasepsi, asuhan pre dan post menopause, sehingga hal ini merupakan suatu
tantangan bagi bidan.
Asuhan yang diberikan oleh bidan harus dicatat secara
benar, singkat, jelas, logis dan sistematis sesuai dengan metode
pendokumentasian. Dokumentasi sangat penting artinya baik bagi pemberi asuhan
maupun penerima pelayanan asuhan kebidanan, dan dapat digunakan sebagai data otentik
bahwa asuhan telah dilaksanakan.
Bidan sebagai tenaga kesehatan yang professional
memberikan asuhan kepada klien. Sesuai dengan perannya pula bidan memiliki
kewajiban memberikan asuhan untuk menyelamatkan ibu dan anak dari gangguan
kesehatan. Asuhan yang dimaksud adalah asuhan kebidanan. Secara
definitive, askeb dapat diartikan sebagai bantuan yang diberikan oleh bidan
kepada individu ibu atau anak. Askeb merupakan bagian dari pelayanan kesehatan
yang diarahkan untuk mewujudkan kesehatan keluarga dalam rangka tercapainya
keluarga kecil bahagia sejahtera.
Untuk melaksanakan asuhan tersebut digunakan metode
dan pendekatan yang disebut Manajemen kebidanan. Metode dan pendekatan
digunakan untuk mendalami permasalahan yang dialami oleh klien, dan kemudian merumuskan
permasalahan tersebut serta akhirnya mengambil langkah pemecahannya. Manajemen
kebidanan membantu proses berfikir bidan di dalam melaksanakan asuhan dan
pelayanan kebidanan.
Dalam melaksanakan tugasnya pada pelayanan kebidanan,
seorang bidan melakukan pendekatan dengan metode pemecahan masalah yang dikenal
dengan manajemen kebidanan.
Manajemen kebidanan untuk mengaplikasikan pendekatan
itu, adalah:
- Identifikasi
dan analisis masalah yang mencakup pengumpulan data subyektif dan obyektif
dan analisis dari data yang dikumpulkan/dicatat.
- Perumusan
(diagnosa) masalah utama, masalah yang mungkin akan timbul (potensial)
serta penentuan perlunya konsultasi, kolaborasi, dan rujukan.
- Penyusunan
rencana tindakan berdasarkan hasil perumusan.
- Pelaksanaan
tindakan kebidanan sesuai dengan kewenangannya.
- Evaluasi
hasil tindakan. Digunakan untuk menentukan tingkat keberhasilan tindakan
kebidanan yang telah dilakukan dan sebagai bahan tindak lanjut.
Semua tahapan dari manajemen kebidanan ini
didokumentasikan sebagai bahan tanggung jawab dan tanggung gugat dan juga untuk
keperluan lain seperti referensi serta penelitian.
Varney (1997) menjelaskan bahwa prinsip manajemen
adalah pemecahan masalah. Dalam text book masalah kebidanan yang
ditulisnya pada tahun 1981 proses manajemen kebidanan diselesaikan melalui 5
langkah yaitu pengumpulan data dasar, interpretasi data, perencanaan asuhan,
pelaksanaan, dan evaluasi.
Setelah menggunakannya, Varney (1997) melihat ada
beberapa hal yang penting disempurnakan. Misalnya seorang bidan dalam manajemen
yang dilakukannya perlu lebih kritis untuk mengantisipasi masalah atau diagnose
potensial. Dengan kemampuan yang lebih dalam melakukan analisa kebidanan akan
menemukan diagnose atau masalah potensial ini. Kadangkala bidan juga harus segera
bertindak untuk menyelesaikan masalah tertentu dan mungkin juga melakukan
kolaborasi dll. Varney kemudian menyempurnakan proses manajemen kebidanan
menjadi 7 langkah. Ia menambah langkah ke III agar bidan lebih kritial
mengantisipasi masalah yang kemungkinan dapat terjadi pada kliennya. Varney
juga menambahkan langkah ke IV dimana bidan diharapkan dapat menggunakan
kemampuannya untuk melakukan deteksi dini dalam proses manajemen sehingga bila
klien membutuhkan tindakan segera atau kolaborasi, konsultasi bahkan dirujuk
segera dapat dilaksanakan. Proses manajemen kebidanan ini ditulis oleh Varney
berdasarkan proses manajemen kebidanan American College of Nurse Midwife yang
pada dasar pemikirannya sama dengan proses manajemen menurut Varney.
Adapun 7 langkah Varney tersebut adalah:
Langkah I : Tahap pengumpulan data dasar
Pada langkah pertama ini dikumpulkan semua informasi
yang akurat dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien.
Untuk memperoleh data dilakukan dengan cara anamnesa, pemeriksaan fisik sesuai
dengan kebutuhan dan pemeriksaan tanda-tanda vital, pemeriksaan khusus dan
pemeriksaan penunjang.
Tahap ini merupakan langkah awal yang akan menentukan
langkah berikutnya, sehingga kelengkapan data sesuai dengan kasus yang dihadapi
yang akan menentukan proses interpretasi yang benar atau tidak dalam tahap
selanjutnya. Sehingga dalam pendekatan ini harus komprehensif meliputi data
subyektif, obyektif dan hasil pemeriksaan sehingga dapat menggambarkan kondisi
pasien yang sebenarnya dan valid. Contoh: dari data subyektif diperoleh bahwa
si pasien mengatakan pusing, susah tidur dll. Dari data obyektif diperoleh data
kesehatan pasien dengan cara pemeriksaan TTV.
Kaji ulang data yang sudah dikumpulkan apakah sudah
tepat, lengkap, dan akurat.
Langkah II : Interpretasi data dasar
Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap
diagnose atau masalah berdasarkan interpretasi atas data-data yang telah
dikumpulkan.
Data dasar yang telah dikumpulkan diinterpretasikan
sehingga dapat merumuskan diagnose dan masalah yang spesifik. Rumusan diagnose
dan masalah keduanya digunakan karena masalah tidak dapat didefinisikan seperti
diagnose tetapi tetap membutuhkan penanganan. Masalah sering berkaitan dengan
hal-hal yang sedang dialami wanita yang diidentifikasi oleh bidan sesuai dengan
hasil pengkajian. Masalah juga sering menyertai diagnose. Sebagai contoh:
wanita pada trimester ketiga merasa takut terhadap proses persalinan dan
melahirkan yang sudah tidak dapat ditunda lagi. Perasaan takut tidak termasuk
dalam kategori “nomenklatur standar diagnose” tetapi tentu akan
menciptakan suatu masalah yang membutuhkan pengkajian lebih lanjut dan
memerlukan suatu perencanaan untuk mengurangi rasa takut. Diagnose kebidanan
adalah diagnose yang ditegakkan bidan dalam lingkup praktik kebidanan dan
memenuhi standar nomenklatur diagnose kebidanan.
Standar nomenklatur diagnose kebidanan:
- Diakui
dan telah disyahkan oleh profesi.
- Berhubungan
langsung dengan praktik kebidanan.
- Memiliki
ciri khas kebidanan.
- Didukung
oleh clinical judgement dalam praktik kebidanan.
- Dapat
diselesaikan dengan pendekatan manajemen kebidanan.
Langkah III
: Mengidentifikasi diagnose atau masalah potensial dan mengantisipasi
penanganannya
Pada langkah ini bidan mengidentifikasi masalah potensial
atau diagnose potensial berdasarkan diagnose yang sudah diidentifikasi. Langkah
ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan. Bidan
diharapkan dapat waspada dan bersiap-siap mencegah diagnose ini menjadi
benar-benar terjadi. Langkah ini penting sekali dalam melakukan asuhan yang
aman. Contoh: seorang wanita dengan pemuaian uterus yang berlebihan, bidan
harus mempertimbangkan kemungkinan penyebab pemuaian uterus yang berlebihan
tersebut. Kemudian ia harus mengantisipasi, melakukan perencanaan untuk
mengatasinya dan bersiap-siap terhadap kemungkinan tiba-tiba terjadi perdarahan
post partum yang disebabkan oleh atonia uteri karena pemuaian uterus yang
berlebihan.
Pada langkah ketiga ini bidan dituntut untuk mampu
mengantisipasi masalah potensial, tidak hanya merumuskan masalah potensial yang
akan terjadi tetapi juga merumuskan tindakan antisipasi agar masalah atau
diagnose potensial tidak terjadi. Sehingga langkah ini benar merupakan langkah
yang bersifat antisipasi yang rasional atau logis. Kaji ulang apakah diagnose
atau masalah potensial yang diidentifikasi sudah tepat.
Langkah IV :
Menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera untuk melakukan konsultasi,
kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain berdasarka kondisi klien
Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan
atau dokter dan atau untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan
anggota tim kesehatan yang lain sesuai kondisi klien.
Langkah keempat mencerminkan kesinambungan dari proses
manajemen kebidanan. Jadi manajemen bukan hanya selama asuhan primer periodic
atau kunjungan prenatal saja tetapi juga selama wanita tersebut bersama bidan
terus menerus, misalnya pada waktu wanita tersebut dalam persalinan.
Data baru mungkin saja dikumpulkan dan dievaluasi.
Beberapa data mungkin mengidentifikasi situasi yang gawat dimana bidan harus
bertindak segera untuk kepentingan keselamatan jiwa ibu atau anak.
Dari data yang dikumpulkan dapat menunjukkan satu
situasi yang memerlukan tindakan segera sementara yang lain harus menunggu intervensi
dari dokter. Situasi lainnya tidak merupakan kegawatan tetapi memerlukan
konsultasi atau kolaborasi dengan dokter. Demikian juga bila ditemukan
tanda-tanda awal dari pre eklampsia, kelainan panggul, adanya penyakit jantung,
diabetes atau masalah medic yang serius, bidan perlu melakukan konsultasi atau
kolaborasi dengan dokter.
Dalam kondisi tertentu seorang wanita mungkin juga
akan memerlukan konsultasi atau kolaborasi dengan dokter atau tim kesehatan
lain seperti pekerja social, ahli gizi atau seorang ahli perawatan klinis BBL.
Dalam hal ini bidan harus mampu mengevaluasi kondisi setiap klien untuk
menentukan kepada siapa konsultasi dan kolaborasi yang paling tepat dalam
manajemen askeb.
Pada penjelasan di atas menunjukkan bahwa bidan dalam melakukan
tindakan harus sesuai dengan prioritas masalah atau kebutuhan yang dihadapi
kliennya. Setelah bidan merumuskan tindakan yang perlu dilakukan untuk
mengantisipasi diagnose atau masalah potensial pada step sebelumnya, bidan juga
harus merumuskan tindakan segera yang harus dirumuskan untuk menyelamatkan ibu
dan bayi. Dalam rumusan ini termasuk tindakan segera yang mampu dilakukan
secara mandiri, secara kolaborasi atau bersifat rujukan. Kaji ulang apakah
tindakan segera ini benar-benar dibutuhkan.
Langkah V : Menyusun rencana asuhan yang menyeluruh
Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh
ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan
manajemen terhadap masalah atau diagnose yang telah diidentifikasi atau diantisipasi.
Pada langkah ini informasi data yang tidak lengkap dapat dilengkapi.
Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi
apa-apa yang sudah teridentifikasi dari kondisi klien atau dari setiap masalah
yang berkaitan tetapi juga dari kerangka pedoman antisipasi terhadap wanita
tersebut seperti apa yang diperkirakan akan terjadi berikutnya, apakah
dibutuhkan penyuluhan, konseling, dan apakah perlu merujuk klien bila ada
masalah-masalah yang berkaitan dengan social ekonomi-kultural atau masalah
psikologis. Dengan perkataan lain, asuhan terhadap wanita tersebut sudah
mencakup setiap hal yang berkaitan dengan setiap aspek asuhan kesehatan. Setiap
rencana asuhan haruslah disetujui oleh kedua pihak, yaitu bidan dan klien agar
dapat dilaksanakan dengan efektif karena klien juga akan melaksanakan rencana
tersebut. Oleh karena itu, pada langkah ini tugas bidan adalah merumuskan
rencana asuhan sesuai dengan hasil pembahasan rencana asuhan bersama klien
kemudian membuat kesepakatan bersama sebelum melaksanakannya.
Semua keputusan yang dikembangkan dalam asuhan
menyeluruh ini harus rasional dan benar-benar valid berdasarkan pengetahuan dan
teori yang up to date serta sesuai dengan asumsi tentang apa yang akan
dilakukan klien. Kaji ulang apakah rencana asuhan sudah meliputi semua aspek
asuhan kesehatan terhadap wanita.
Langkah VI : Pelaksanaan langsung asuhan dengan
efisien dan aman
Pada langkah keenam ini rencana asuhan menyeluruh
seperti yang telah diuraikan pada langkah kelima dilaksanakan efisien dan aman.
Perencanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian lagi oleh
klien atau anggota tim kesehatan lainnya. Walau bidan tidak melakukannya
sendiri, ia tetap memikul tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanannya,
misalnya memastikan langkah-langkah tersebut benar-benar terlaksana.
Dalam situasi dimana bidan berkolaborasi dengan dokter
untuk menangani klien yang mengalami komplikasi, maka keterlibatan bidan dalam
manajemen asuhan bagi klien adalah tetap bertanggung jawab terhadap
terlaksananya rencana asuhan bersama yang menyeluruh tersebut. Manajemen yang
efesien akan menyangkut waktu dan biaya serta meningkatkan mutu dan asuhan
klien. Kaji ulang apakah semua rencana asuhan telah dilaksanakan.
Langkah VII : Mengevaluasi
Pada langkah ketujuh ini dilakukan evaluasi
keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan
bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi sesuai kebutuhan sebagaimana telah
diidentifikasi dalam diagnose dan masalah. Rencana tersebut dapat dianggap
efektif jika memang benar efektik dalam pelaksanaannya.
Ada kemungkinan bahwa sebagian rencana tersebut
efektif sedangkan sebagian belum efektif. Mengingat bahwa proses manajemen
asuhan ini merupakan suatu kegiatan yang berkesinambungan maka perlu mengulang
kembali dari awal setiap asuhan yang tidak efektif melalui manajemen untuk
mengidentifikasi mengapa proses manajemen tidak efektif serta melakukan
penyesuaian terhadap rencana asuhan tersebut.
Langkah-langkah proses manajemen umumnya merupakan
pengkajian yang memperjelas proses pemikiran yang mempengaruhi tindakan serta
berorientasi pada proses klinis, karena proses manajemen tersebut berlangsung
didalam situasi klinik dan dua langkah terakhir tergantung pada klien dan
situasi klinik, maka tidak mungkin proses manajemen ini dievaluasi dalam
tulisan saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar